Survei Reuters: Produksi Minyak Sawit RI Naik Jadi 51,2 Juta Ton pada 2026, Terbesar di Dunia

Survei Reuters Produksi Minyak Sawit Mentah Atau Crude Palm Oil (CPO) Indonesia Di Perkirakan Akan Meningkat Pada 2026

Survei Reuters Produksi Minyak Sawit Mentah Atau Crude Palm Oil (CPO) Indonesia Di Perkirakan Akan Meningkat Pada 2026. Berdasarkan hasil Survei Reuters, produksi minyak sawit Indonesia di proyeksikan naik menjadi 51,2 juta metrik ton pada tahun depan, menjadikan Indonesia tetap sebagai produsen sawit terbesar di dunia.

Kenaikan produksi tersebut di nilai akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri minyak nabati global. Dengan pangsa produksi yang dominan, pergerakan output sawit Indonesia sangat berpengaruh terhadap harga minyak nabati dunia, termasuk minyak kedelai dan minyak bunga matahari.

Reuters melaporkan, kenaikan produksi Indonesia pada 2026 diprediksi terjadi seiring membaiknya produktivitas kebun setelah cuaca lebih stabil, serta dorongan pemulihan produksi setelah beberapa periode tekanan akibat faktor iklim.

Produksi Indonesia Di Perkirakan Naik

Dalam survei tersebut, Reuters mengutip estimasi para analis dan pelaku pasar yang memperkirakan produksi Indonesia meningkat sekitar 3% di banding tahun sebelumnya. Salah satu faktor pendorongnya adalah membaiknya hasil tandan buah segar (TBS) dari perkebunan sawit setelah hujan kembali mendukung pertumbuhan tanaman. Produksi Indonesia Di Perkirakan Naik.

Selain faktor cuaca, peningkatan produksi juga di dorong oleh perbaikan pengelolaan perkebunan, serta pemanfaatan teknologi pertanian yang mulai semakin luas di gunakan. Indonesia juga secara bertahap melakukan peremajaan (replanting) pada kebun-kebun yang sudah tua, meski proses ini berjalan tidak merata di seluruh wilayah.

Tetap Jadi Raksasa Sawit Dunia

Dengan proyeksi output 51,2 juta ton, Indonesia tetap unggul jauh di banding negara produsen besar lain seperti Malaysia. Produksi sawit Malaysia pada 2026 dalam survei yang sama di perkirakan mencapai sekitar 19,4 juta metrik ton. Artinya, produksi Indonesia masih lebih dari dua kali lipat Malaysia.

Para analis menilai dominasi ini membuat Indonesia menjadi penentu penting pasokan minyak nabati dunia. Perubahan produksi di Indonesia dapat langsung mempengaruhi ketersediaan minyak sawit internasional dan memicu fluktuasi harga di pasar global.

Survei Reuters Konsumsi Domestik Masih Jadi Faktor Kunci

Meski produksi meningkat, Reuters mencatat bahwa pertumbuhan ekspor sawit Indonesia tetap akan di pengaruhi kebijakan domestik. Indonesia memiliki kebutuhan besar untuk biodiesel, termasuk kebijakan pencampuran biodiesel (B) yang menyerap pasokan sawit dalam jumlah besar. Survei Reuters Konsumsi Domestik Masih Jadi Faktor Kunci.

Pada 2026, permintaan dalam negeri untuk biodiesel masih diperkirakan kuat, sehingga peningkatan produksi belum tentu sepenuhnya mengalir ke pasar ekspor. Dengan kata lain, kenaikan produksi bisa diimbangi oleh meningkatnya konsumsi domestik.

Selain biodiesel, konsumsi dalam negeri juga datang dari industri makanan, produk rumah tangga, hingga sektor oleokimia.

Harga Global dan Dampak bagi Pasar

Kenaikan produksi sawit Indonesia berpotensi memberi tekanan terhadap harga jika pasokan melimpah. Namun pasar tetap memperhitungkan banyak variabel, mulai dari kondisi cuaca, permintaan global, kurs mata uang, hingga harga minyak nabati lain.

Beberapa pedagang komoditas menyebut bahwa meski output naik, harga belum tentu turun signifikan karena ada faktor risiko geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global. Selain itu, permintaan dari negara importir besar seperti India, China, dan Pakistan masih menjadi kunci keseimbangan pasar.

Tantangan Industri Sawit

Meski proyeksi produksi positif, industri sawit Indonesia tetap menghadapi tantangan. Mulai dari isu keberlanjutan, produktivitas kebun rakyat, hingga tekanan regulasi dari beberapa pasar ekspor yang memperketat standar lingkungan. Tantangan Industri Sawit.

Pemerintah dan pelaku industri terus mendorong sertifikasi serta praktik ramah lingkungan agar produk sawit Indonesia dapat bersaing di pasar internasional. Di sisi lain, peningkatan produktivitas tanpa membuka lahan baru juga menjadi agenda penting untuk menjawab kritik global sekaligus menjaga ekosistem.

Dengan proyeksi produksi yang meningkat pada 2026, Indonesia di perkirakan tetap menjadi aktor utama dalam peta minyak sawit dunia. Namun, arah harga dan ekspor tetap bergantung pada permintaan global serta kebijakan domestik dalam pengelolaan komoditas strategis ini.